Minggu, 18 September 2022

September 1980

 

Rumah itu termasuk rumah orang berada,hidup sepasang keluarga kecil yang harmonis serta ditumbuhi dengan pohon-pohon jati yang rindang.Mereka keluarga kecil yang memiliki seorang anak perempuan sekitar usia 10 tahun-an. Seorang istri yang cantik dengan rambut sepundak,kulit putih berusia sekitar 27 sampai 30 tahun dengan suami yang tampan,berpostur tinggi.Sekitar tahun 1980-an,sang ayah sudah memiliki sepeda motor.Wajar,karena dia seorang pegawai kantor di kecamatan. Sang istri bernana Asih,sang suami bermana Aryo,anak mereka bernama Tari.

Hari itu,mereka melakukan rutinitas seperti biasa,setiap hari Asih dan anaknya menunggu di teras melihat sang suami berngkat kerja.Keluar dari ruang tamu menuju ke depan,Aryo menyiapkan motornya.

“Dah ya,Ayah berangkat dulu”. Ucap Aryo sambil mengulurkan tangannya ke Asih dan Tari.

“Iya,yah,hati-hati”. Ucap Tari sambil tersenyum.

 

Kebetulan,hari itu adalah hari Minggu,tetapi Aryo ada perlu untuk menyiapkan

berkas karena ada kunjungan dari kota.Disana ada dua orang berandal bernama Parjo dan Warman, yang kerjanya minum-minum dan berjudi.Saat mereka berjalan sambil bergurau,Parjo berkata kepada Warman “ Sek Sek Sek,Tuh si Asih,istri Aryo. Lumayan cantik ya” sambil melihat dengan wajah penuh nafsu.Namun,hal itu dilihat oleh Aryo.Selangkangan Parjo dipukul oleh Warman,mengingatkan Parjo atas nafsunya.Dalam pikiran mereka,mereka sudah menyusun rencana untuk memperkosa Asih.

            Hari senin,Ayo bersiap untuk berangkat ke kecamatan.

“Bu,nanti malam tidur duluan saja,kasihan kalau ibu menungguku terlalu larut” kata Aryo.

“Iya,pak. Hati-hati dijalan” sahut Asih.

Sambil menyalakan sepeda motornya,Aryo pun pergi meninggalkan rumah itu.Dibalik pohon,Parjo dan Warman sudah menunggu kesempatan untuk melancarkan aksi ‘bejat’ mereka.

            Malam itu,Asih sedang menemai anaknya tidur,tiba-tiba mendengar suara pintu diketuk.Sambil berjalan ke depan,Asih membukakan pintu,ternyata itu adalah Warman.“Mas Warman ada apa ya?,Mas Aryo sedang ada pertemuan di luar kota,besok saja kalau ada perlu dengan suamiku”.Tegas Asih sambil memberi isyarat kepada Warman untuk segera pergi. Sambil memaksa masuk,Warman mendorong Asih kedalam rumahnya dan tangannya membungkam mulut Asih. Asih pun memberontak sambil berteriak meminta tolong kepada warga sekitar. Namun,tidak ada yang mendengar terikannya dikarenakan saat itu warga desa sedang ada pertemuan di balai desa. Tari yang sedang tertidur pun akhirnya terbangun karena mendengar suara keributan di ruang tamu.Ternyata Warman tidak sendiri,Parjo pun ikut dalam insiden itu.Tanpa pikir panjang,Parjo menampar Tari .

            “Jangan sakiti anakku,ambil semua harta yang kau mau tapi jangan sakiti dia!” Teriak Asih. Namun,Warman pun berkata tanpa berpikir panjang “Aku inginkan kamu,aku ingin memiliki kamu “. Mendengar perkataan preman itu,Asih pun meludahinya,namun Warman naik pitam,dia menelanjangi Asih secara paksa dan memperkosanya bergantian dengan Parjo hingga Asih tak sadarkan diri. Aksi mereka berdua sempat terhenti karena Tari berteriak.Karena mendengar suara teriakan Tari,Warman pun menghantam wajah Tari ke kaca jendela sehingga Tari tewas.

                        “DASAR BODOH!!” ucap Parjo

                        “Sudah,biarkan saja wanita itu tergantung didepan kamarnya.

                        Anak ini akan aku buang mayat nya ke sumur” kata Warman.

Hingga saat ini,kasus ini tidak pernah terungkap.Aryo yang pulang dan melihat rumahnya besimbah darah menjadi terpukul dan depresi atas kejadian itu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar