Minggu, 18 September 2022

Hutan Rawa Cilik ( Jilid I)


 

L

ima orang pergi ke sebuah hutan,mereka merencanakan untuk berkemah di hutan itu.Kelima orang yaitu Vita,Opai,Jeri,Rozak dan Casi.Perjalanan mereka menelusuri jalan setapak yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang lurus.Dalam perjalanan,mereka ditemani oleh seorang juru kunci setempat bernama Pak Kadir.Ditengah perjalanan,perhatian mereka teralihkan oleh sebuah batu besar,namun herannya diatas batu besar tersebut diletakan sesajen.

          Vita,Opai,Jeri,Rozak dan Casi terpaku pada sesajen diatas itu. “Itu adalah sesajen orang kampung sini yang sering memberikannya,tidak apa-apa. Mari,ke kiri sini” kata Pak Kadir. Disaat perjalanan,tiba-tiba Jeri melihat sosok perempuan mengenakan selendang merah,memakai kebaya hijau,dan kain batik samar-samar dibalik rerumputan.Jeri memejamkan mata lalu mengusap-usap matanya,memastikan apa yang dilihatnya,namun perempuan itu tiba-tiba menghilang.”Mungkin halusinasi saja”,kata Jeri dalam hati.

          Akhirnya,mereka pun tiba dititik mereka akan mendirikan tenda.Pak Kadir pun pamit dan akan menyusul mereka esok hari. “Bapak pamit dulu ya,dik.Besok jam tiga bapak jemput kalian.Tolong pesan bapak diingat,di sebelah utara ada rawa,jangan pernah kesana.Kalau mau buang air,sebaiknya izin dulu”,Pesan Pak Kadir kepada mereka. Mereka memperhatikan apa yang dikatakan Pak Kadir. “Iya,Pak.Kalau boleh tahu,mengapa kami dilarang kesana?”,tanya mereka. “Lebih baik jangan,itu saja,mohon dituruti” ucap Pak Kadir sedikit menekankan.Tak lama,Pak Kadir pun mulai berjalan pulang sambil membenarkan sarung di pundaknya. Dengan sedikit terburu-buru,Rozak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Ini pak,mohon diterima” ucap Rozak sambil menyodorkan sejumlah uang kepada Pak Kadir. “Ayo kita cari kayu bakar,sebelum malam tiba” ,ajak Opai. Jeri yang lesu setelah mendirikan tenda,perlahan berdiri dan berjalan mengikuti mereka.Malam pun Tiba.

          Diterangi bulan purnama dan hangati oleh kobaran api unggun,tiba Opai memegang perutnya.

                   “Ngape lo?” tanya Jeri

                   “Mules gue,Jer” sahut Opai

                   “Hahahaha,kirain apa” tanya Casi

                   “Jer,temenin yok” ajak Opai

                   “Gile lo ya,mau setor aja ngajak-ngajak” jawab Jeri

Akhirnya Opai pergi untuk buang air sendirian.Ketika Opai sedang buang hajat,terdengar suara perempuan sedang besenandung.Di sisi kanan pohon terlihat sosok wanita cantik dengan pandangan fokus melihat ke arah Opai.Segeralah Opai bebersih,dengan perasaan penasaran diam diam dia mengikuti perempuan itu.Ternyata perempuan itu bergerak menuju ke rawa yang dilarang oleh Pak Kadir.Perlahan,wanita itu melepaskan pakaian dari selendang hingga kebayanya lalu berjalan ke dalam rawa hingga terendam.Dibasuhnya tubuhnya dengan tangan nya yang lembut dari pundak hingga bagian depan tubuhnya.

          Sementara Opai mengintip wanita itu dibalik semak,dia terpukau dengan kemolekan tubuh gadis itu.Tiba-tiba wanita itu berbalik dan membuat Opai terkejut hingga terjatuh ke belakang.

”Bang,sedang apa? Ayo ikut aja sama aku”.ucap wanita itu

“Maaf,mbak,saya tidak sengaja”.sahut Opai

Sang wanita menghampiri Opai,dibelainya wajah Opai dengan jari nya yang lembut sambil berbisik di telinga Opai “Ayo,ikut Mandi”.Perlahan dia melepaskan baju Opai lalu bercumbulah mereka.Opai lupa dengan pesan yang disampaikan Pak Kadir bahwa dia dan teman-temannya dilarang untuk mendatangi rawa di sebelah utara itu.Di rawa itu,ditumbuhi oleh pohon bambu yang menjulang tinggi sehingga dapat membuat Opai terlena oleh seorang wanita cantik di hadapannya.Tanpa sadar,perlahan lahan Opai tenggelam di dalam rawa tersebut bersama seorang wanita cantik berselendang merah.

          Vita,Casi dan Jeri sedang asik besenda gurau di dekat api unggun sementara Jeri sudah tertidur.

“Eh eh,kok si Opai lama bener ya”.Ucap Vita membuka pembicaraan.

“Lah iya,gue juga baru sadar”. kata Casi

“Halah,tu anak paling lagi semedi,bentar lagi juga balik”. timpal Jeri

“Tapi ini udah lama bener loh,Jer.Lo bangunin Rozak gih”.balas Vita.

Akhirnya Jeri berdiri lalu membuka tenda Rozak dan membangunkannya.

                   “Zak,Zak.Banguin oi,si Jeri kagak ada”. ucap Jeri

                   “Apa sih,oi. ngantuk gue,Jer. balas Rozak

                   “Ayo cari Opai” ajak Jeri

                   “Kalian aja sana,gue ngantuk berat”.sahut Rozak

Jeri akhirya keluar tenda dan memberi tahu yang lain bahwa Rozak tidak ikut mencari si Opai.Dalam perjalanan,mereka terus teriak memanggil manggil Opai dan tanpa sengaja,Jeri menendang sesajen.

                   “ Ahh,apaan ini”. kata Jeri

                   “Ini rupanya sesajen yang diberikan warga sekitar” kata Casi.

          Opai sedang bercumbu dengan wanita berselendang merah itu.Dibelai rambutnya,dilihat tangannya ada darah yang sudah mengental.Mata Opai melotot terkejut,di ujung rawa terlihat banyak orang yang tampak hanya sampai mata saja.Mata nya berwarna putih dan berkulit putih pucat,membuat Opai makin gemetar ketakutan.Perlahan dia menoleh ke kiri dan melihat wajah wanita itu.Ternyata wajah wanita itu penuh darah dan banyak belatung yang keluar dari wajahnya.Opai pun berteriak dan terjatuh ke dalam rawa,dia melihat banyak orang yang mengerikan dengan mulut terbuka.Dia pun kehabisan nafas seolah ada yang menariknya dari dalam rawa.

          Sementara Casi,Jeri dan Vita mencari Opai sambil memanggil manggil namanya,tiba-tiba jeri mendengar sesuatu seperti orang sedang mandi di air.

“Eh eh,coba kalian dengar ndak?.Seperti ada yang maian air ya”. kata Jeri.

“Mana ada sungai didekat sini”. Kata Vita menegaskan.

“Coba dulu kalian dengar”. Jeri menegaskan.

“Halah udahlah,paling elu halu,Jer”. Sahut Vita.

“Udahlah kalian ini,ayo kita cari lagi,nanti keburu hilang”. ajak Casi.

Mereka terus berjalan mencari dan tanpa sadar,Jeri terpisah dari mereka.

“Lah mana mereka? Cas..,Ta…,Jer…Woi jangan bercanda ditengah hutan woi,gak lucu”. Teriak Jeri mencari mereka.

Jeri mendengar suara wanita tertawa “hi..hi..hi..hi”,terperanjtalah dia sambil mencari sumber suara itu.Dia pandangi semua pohon disekitarnya,dengan kepala melihat keatas.Badan gemetar hampir lemas,jantung berdetak cepat,air mata perlahan mengalir.Karena takut,akhirnya Jeri berlari ketakutan hingga kaki nya tersungkur dan tertusuk batang kayu,ia berteriak meminta tolong namun tidak ada yang mendengar.Dari sudut depan terlihat wanita berselendang merah sedang berdiri memperhatika Jeri. Jeri pun teriak meminta tolong kepada wanita itu,namun wanita itu perlahan menghilang. Jeri terus berusaha merangkak meninggalkan tempat itu,namun ia langsung pingsan.

          Keesokan harinya,ia ditemukan oleh Vita,Casi,Rozak dan Pak Kadir serta warga sekitar. Ternyata Jeri telah menghilang selama tujuh hari dan semuanya mencarinya kemana-mana.Akhirnya Jeri ditandu ke unit penyelamat dibantu oleh Casi,Lita dan Rozak.Sedangkan jasad Opai ditemukan oleh warga tujuh hari kemudian.Kondisi jasad Opai sudah membusuk dan sekarang,termpat itu sudah menjadi bekas gudang di dekat perumahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar